Minggu, 09 Januari 2011

Plotinus: pembacaan baru Plato

ROMAWI: selama usia kekaisaran di pusat peradaban dunia pada waktu itu, filsafat diajarkan berkenaan dengan doktrin para filsuf besar di masa lalu: Plato, Aristoteles, Epicurus, dan Zeno. Tidak hanya di Roma, Athena, atau Alexandria, tetapi juga di belahan timur kekaisaran meliputi Pergamon, Smyrna, Apamea, Tarsus, Ege, Aphrodisias; Napoli dan Marseille di sebelah barat; “sekolah” filsafat dengan ajaran Platonisme, Aristotelianisme, Stoikisme, atau Epikureanisme disebarluaskan. Dengan latar belakang ini, pemikiran Plotinus mewakili suatu titik balik dalam sejarah ide-ide filosofis yang memainkan peran penting dalam penciptaan filsafat dan mempengaruhi secara tidak langsung filsafat pada Abad Pertengahan, baik dalam bahasa Latin dan bahasa Arab.

Datang dari Alexandria, Plotinus mempelajari Platonisme di bawah bimbingan Ammonius Saccas, ia tiba di Roma pada tahun 244 M dan membuka sekolah di sana. Dari klaim eksplisit dan isi risalahnya, kita tahu bahwa dia bukan hanya seorang Platonis dan mengajarkan Platonisme tetapi juga memperhitungkan doktrin para filsuf lain, terutama Aristoteles. Seperti ketika kita mempelajari biografinya, Porphyry mengawali edisi karya Plotinus dalam pertemuan sehari-hari di sekolah Aristoteles, disertai dengan komentar mereka—terutama oleh Alexander dari Aphrodisias—sebelum Plotinus menyajikan bahasannya. Hal ini bukan sesuatu yang baru, tetapi kebiasaan Platonis yang membandingkan Plato dan Aristoteles, baik untuk menunjukkan bahwa terdapat perbedaan di antara keduanya pada isu-isu mendasar atau dengan tujuan berargumen bahwa kritik Aristoteles adalah keliru dan hanya mengundang polemik saja. Namun, posisi Plotinus sebagai seorang Platonis tidak berada pada mainstream “anti Aristotelian” atau “pro Aristotelian”. Dia tidak bersikap begitu karena beberapa doktrin kuncinya didasarkan pada pemikiran Aristoteles—seperti identifikasi tentang Akal Tuhan dan refleksi diri. Pada saat yang sama, ia tidak ragu-ragu untuk mengkritik Aristoteles secara tajam pada isu-isu krusial lainnya, misalnya doktrin Aristoteles tentang “substansi” dan tentang “kategori” dari being yang tidak sesuai dengan ide-ide Platonis tentang keberadaan dan pengetahuan; meskipun hal ini sudah disamarkan Platonis “pro Aristotelian”.

Platonisme Plotinus berakar pada tradisi Platonis dan dalam doktrin yang disebut Platonisme Tengah, tetapi ia memulai era barunya dalam sejarah pemikiran filosofis. Sebagai seorang Platonis, ia yakin bahwa jiwa adalah sebuah realitas terpisah dari tubuh dan mengetahui struktur sesungguhnya dari segala sesuatu, sedangkan persepsi akal menggunakan organ-organ tubuh dan hanya menangkap atau mengubah tingkatan realitas. Namun, Plotinus sangat menyadari kritik Aristoteles dan kepiawaiannya mengenai doktrin jiwa. Jiwa berkaitan erat dengan tubuh untuk kelangsungan hidup, tetapi ini tidak berarti bahwa kekuatan kognitif tergantung pada organ tubuh: “bagian” dari jiwa memiliki akses kepada struktur otak dan menyediakan prinsip-prinsip penalaran. Namun, jiwa ini tidak berarti hanya alat kognitif: ia juga terhitung sebagai prinsip imanen struktur rasional dari tubuh dan jaringan bersama dari being dan becoming sebagaimana Plato membedakan satu sama lain dalam Timaeus. Plotinus menjadikan jiwa—baik tubuh individu yang hidup maupun tubuh alam semesta—sebagai suatu prinsip yang berakar pada realitas yang dapat dimengerti sekaligus menjadi penyebab imanen dari pengaturan rasional terhadap realitas yang terlihat.

Sifat realitas yang dapat dimengerti diri sendirinya juga dieksplorasi oleh Plotinus. Di satu sisi, ia mengambil bentuk perbedaan di dalam Platonis antara realitas yang dapat dimengerti dan terlihat; di sisi lain, dia langsung membahas keberatan yang diajukan oleh Aristoteles terhadap teori partisipasi yang merupakan penjelasan terpenting Plato tentang hubungan antara being dan becoming. Di mata Plotinus, Aristoteles gagal mengikuti aturan metodologisnya sendiri ketika memanfaatkan prinsip-prinsip setiap bidang epistemik yang tepat untuk itu. Aristoteles memahami “Form” Platonis seolah-olah mereka merupakan individu-individu seperti yang terlihat di dunia, ia mengungkapkan serangkaian keberatan—di antara argumen yang terkenal adalah Third Man—jika seseorang memperhitungkan sifat asli mereka. Penafsiran Plotinus terhadap dunia yang dapat dimengerti dari Platonis sangat penting untuk pengembangan filsafat. Form bukan merupakan konsep umum yang selamanya benar dan tidak pernah salah. Mereka tidak berbagi sifat dari hal-hal bernama setelahnya (prinsip yang dapat dimengerti, misalnya membuat kejelasan sesuatu yang segitiga bukan tiga sudut). Form juga tidak hanya hasil duplikat sesuatu di dunia yang masuk akal tanpa penjelasan atasnya, sebagaimana sanggahan Aristoteles. Menurut interpretasi Plotinus—yang menggunakan doktrin Aristoteles tentang Akal Ilahi dalam Metaphysic, Form adalah prinsip-prinsip yang dapat dimengerti dari semua yang eksis, di alam ia identik dengan Akal Ilahi. Akal ini bagi Platonis adalah pencipta dunia dari mitos Timaeus dan nous menurut versi Aristoteles; terletak di puncak totalitas yang teratur dengan baik di kosmos. Asumsi identifikasi Platonis mengatakan bahwa realitas dapat dipahami dengan benarnya keberadaan, Plotinus membuat keberadaan yang mudah dipahami sebagai prinsip intelektual Ilahi sebagaimana dijelaskan dalam Timaeus. Tapi ia juga mendukung doktrin Aristotelian mengenai tingkat tertinggi being sebagai sebuah realitas yang bergerak, sempurna, dan diberkati; realitas sangat alami adalah pemikiran refleksi diri. Being, Akal, dan Form dalam penafsiran Plotinus berasal dari filsafat Yunani; satu hal yang sama, dalam pandangan Plotinus: Parmenides, Plato, dan Aristoteles secara substansial berada pada titik yang sama, tetapi menurutnya Plato yang paling akurat.

Pada isu-isu penting lainnya, Plotinus memandang perlu penelitian yang lebih seksama. Menurutnya, Aristoteles keliru ketika ia berpendapat bahwa Akal Ilahi adalah prinsip pertama itu sendiri. Plotinus menerima analisis Aristoteles mengenai tingkat tertinggi being berupa refleksi diri, meskipun ia berpendapat bahwa prinsip tersebut tidak dapat menjadi penyebab pertama dari segala sesuatu. Apa yang menjadi penyebab pertama harus benar-benar sederhana, dan kekekalan berpikir itu sendiri tidak dapat memenuhi persyaratan ini. Tidak hanya ada dualisme pemikir dan objek pemikiran, tetapi objek pemikiran itu sendiri secara intrinsik sangat majemuk, sebagaimana diidentifikasi dalam Form Platonik. Untuk alasan ini, Plotinus tidak sepakat dengan pendapat Aristoteles tentang prinsip pertama berupa refleksi diri, tetapi ia juga tidak sepakat dengan solusi tradisional Platonis Tengah untuk masalah penamaan prinsip pertama Plato. Hal tersebut juga diketahui bahwa pertanyaan ini tidak terjawab dalam “Dialog” Plato. Pada saat Plato menunjukkan bahwa ada prinsip-prinsip Form, tapi dia tidak pernah membahas masalah ini secara langsung. Di bawah pengaruh teologi Aristoteles, kaum Platonis Tengah cenderung untuk mengidentifikasi “Good” (yang baik, di dalam “Republic” sebagai prinsip Form) dengan Sang Pencipta dalam “Timaeus”, begitu pula Akal Ilahi yang dikatakan “good”. Plotinus sendiri menafsirkan “Good” dalam buku VI “Republic” sebagai identik dengan “One” sebagaimana dibahas pada paruh kedua Parmenides: jika dikatakan “to be”, maka akan menjadi majemuk. Menurut Plotinus, “One” itu “melampaui being”, seperti “Good” dalam “Republic”. Meskipun “One” dipahami sebagai prinsip pertama dalam Neopithagoranisme pada abad kedua, kesejajaran makna “Good” dalam “Republic” dengan “One” dari Parmenides belum pernah terjadi sebelumnya di sekolah Platonis dan memungkinkan Plotinus untuk mengklaim bahwa inti filsafatnya berupa doktrin dari tiga prinsip, yaitu One-Good, Akal, dan Jiwa; boleh jadi tiga prinsip tersebut adalah penafsiran terhadap pemikiran Plato sendiri. Doktrin ini akan memainkan peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi filsafat Arab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar